Berita  

Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, Proyek Irigasi Tersier di Desa Gempolpading Jadi Sorotan

Lamongan | kabarpena.net – Proyek pembangunan jaringan irigasi tersier di Dusun Gempolmanis, Desa Gempolpading, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026 sebesar Rp100 juta untuk Kelompok Tani (Poktan) Sri Kuncung, menjadi sorotan setelah ditemukan sejumlah indikasi yang menimbulkan pertanyaan terkait pelaksanaannya.

Berdasarkan hasil penelusuran awak media di lokasi, ditemukan dugaan bahwa pekerjaan yang seharusnya dilakukan secara swakelola oleh kelompok tani justru dikerjakan oleh tenaga kerja dari luar desa dengan sistem borongan yang menyerupai pola kerja kontraktual.

Selain itu, di lapangan juga ditemukan adanya bagian bangunan baru yang menempel pada konstruksi lama yang telah ada sebelumnya. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan terkait volume pekerjaan yang benar-benar dikerjakan dalam proyek pembangunan jaringan irigasi tersier tersebut.

Terlihat bangunan menempel di bangunan lama

Ketua Poktan Sri Kuncung, Arifin, saat dikonfirmasi pada 3 Juni 2026 membenarkan bahwa pekerjaan dilakukan oleh tenaga kerja dari luar desa.

“Pekerjaannya dari luar desa dan hanya borong kerja,” ujarnya.

 

Hasil pantauan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian pembangunan tembok penahan tanah (TPT) lama terlihat langsung disambungkan atau ditumpuk dengan konstruksi baru. Selain itu, pasangan batu pada beberapa bagian bangunan tampak masih memiliki rongga atau lubang yang diduga akibat kurangnya campuran air mani. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi kualitas bangunan dan berpotensi menyebabkan retak maupun kerusakan di kemudian hari.

Menanganggapi temuan tersebut, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Pucuk, Wawan, menjelaskan bahwa bagian bangunan yang menempel pada konstruksi lama hanya sepanjang sekitar tiga meter.

“Itu hanya sekitar tiga meter yang menempel pada bangunan lama. Sedangkan volumenya sudah ditambah, baik dari sisi panjang maupun ketebalannya. Jadi dari sisi volume sebenarnya tidak ada masalah,” kata Wawan saat dikonfirmasi pada 9 Juni 2026.

Terkait penggunaan tenaga kerja dari luar desa, Wawan mengatakan kondisi tersebut terjadi karena saat pekerjaan berlangsung warga setempat sedang memasuki masa panen sehingga sulit mencari pekerja lokal.

Pekerja saat mencampur bahan bangunan

“Waktu itu sedang musim panen sehingga sulit mendapatkan pekerja lokal. Selain itu, para pekerja meminta sistem borongan sehingga pekerjaan dilakukan dengan sistem tersebut. Namun sekarang pekerjanya sudah saya tegur dan saya minta untuk dihentikan,” jelasnya.

Sementara mengenai belum ditemukannya mesin molen di lokasi proyek untuk proses pencampuran semen dan pasir, Wawan mengaku belum mengetahui secara pasti.

“Saya tidak tahu apakah ada mesin molennya atau tidak. Namun jika dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) memang dianggarkan, maka saya akan minta agar menggunakan mesin molen,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai spesifikasi lantai dasar dan penggunaan pasir sesuai RAB, Wawan menyatakan dirinya tidak mengetahui secara rinci dokumen perencanaan tersebut.

Anggarannya Rp100 juta dengan panjang bangunan sekitar 105 meter. Tinggi bangunan di atas permukaan tanah direncanakan 60 sentimeter, sedangkan pondasi yang masuk ke dalam tanah sekitar 30 sentimeter, sehingga total tinggi bangunan 90 sentimeter. Namun saat saya cek di lapangan, ada bagian yang panjangnya sekitar 70 sentimeter di atas permukaan tanah,” terangnya.

Ketinggian tpt

Hingga berita ini ditulis, proyek pembangunan jaringan irigasi tersier tersebut masih menjadi perhatian masyarakat setempat. Diharapkan pihak terkait dapat melakukan evaluasi dan pengawasan secara menyeluruh guna memastikan pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis dan ketentuan yang berlaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *