Lamongan | kabarpena.net – Askab PSSI Lamongan resmi menggulirkan kompetisi berjenjang sepanjang tahun 2026 sebagai upaya serius membina talenta sepak bola usia dini. Namun, di balik program tersebut, muncul penegasan keras terkait pentingnya komitmen pembinaan pemain lokal serta penolakan terhadap praktik “pemain titipan” yang kerap mencederai kompetisi usia muda.
Sejumlah agenda telah disiapkan, mulai dari Liga Anak Megilan 2026 untuk KU 10 dan KU 12, Yes League U-14, hingga pra-musim Piala Soeratin yang akan dijadikan ajang seleksi menuju Piala Soeratin U-17 bagi Persela dan Lamongan FC.
Ketua Askab PSSI Lamongan, Yunan Achmadi, menegaskan bahwa kompetisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari upaya membangun fondasi sepak bola Lamongan dari bawah. Ia juga secara tegas mengingatkan agar klub tidak mengakali aturan dengan mendatangkan pemain dari luar daerah.
“Kompetisi ini harus diisi pemain binaan SSB masing-masing dan benar-benar putra daerah Lamongan. Jangan sampai ada pemain titipan atau pemain dari luar yang justru menghambat pembinaan lokal,” tegasnya.
Menurutnya, jika praktik tersebut masih terjadi, maka tujuan utama kompetisi sebagai sarana pembinaan akan melenceng dan hanya menjadi ajang mengejar prestise semu.
Sorotan serupa datang dari perwakilan NDPS, Nanang, yang mengingatkan bahwa orientasi juara kerap menjadi jebakan dalam kompetisi usia dini. Ia menilai, ambisi berlebihan justru bisa mengorbankan proses perkembangan pemain.

“Ini bukan ajang berburu gelar. Kalau sejak dini sudah dipaksakan target juara, yang terjadi anak-anak kehilangan kesempatan bermain dan berkembang,” ujarnya.
Nanang juga menyinggung potensi celah dalam regulasi pemain yang bisa dimanfaatkan secara tidak fair. Ia meminta aturan ditegakkan secara konsisten.
“Penambahan pemain tidak boleh dilakukan di setiap seri. Kalau dibiarkan, ini bisa jadi celah masuknya pemain instan. Harus ada ketegasan,” tandasnya.
Sementara itu, perwakilan Taka Academy, Taupek Kasrun, menyoroti persoalan klasik yang kerap terjadi, yakni kompetisi yang tidak berjalan sampai selesai. Ia menekankan pentingnya komitmen semua pihak agar program tidak berhenti di tengah jalan.
“Jangan sampai kompetisi hanya ramai di awal, lalu ada SSB yang berhenti di tengah jalan. Ini yang sering terjadi. Harus ada komitmen bersama untuk menuntaskan,” ungkapnya.
Dengan berbagai catatan tersebut, pelaksanaan kompetisi berjenjang Askab PSSI Lamongan tahun ini tak hanya menjadi ajang pembinaan, tetapi juga ujian keseriusan semua pihak dalam membangun sepak bola daerah yang bersih, kompetitif, dan berkelanjutan.(Wan)








